oleh

Berpikir Indonesia dan Konsistensi Moral Politik di Musim Pandemi Covid19

Setiap manusia pasti punya akal, karena itu kodrati mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Akal tersebut akan selalu tercipta oleh lingkungan yang mempengaruhinya. Semakin positif konstruksi akal manusia, maka akan semakin baik juga lingkungan sekitar yang dibuatnya. Sebaliknya jika akal yang suka tipu-tipu (akal-akalan) akan menciptakan kondisi semu dan kondisi negatif terhadap lingkungan sosial kemasyarakatan dalam semua dimensi kehidupan.

Demikian juga bahwa akal yang tercipta pasti telah melalui proses berpikir untuk menghadapi tantangan hidup. Tantangan hidup dimaksud bisa dari aspek masalah keluarga, masyarakat, bangsa dan negara bahkan dunia global.

Fokus berpikir yang ingin saya ungkapkan dalam tulisan ini adalah berpikir Indonesia sebagai negara yang kita cintai. Artinya, jika kita berpikir Indonesia maka sejatinya kita harus ingat ada nilai Pancasila dan UUD 1945 agar terbangun harmony kebangsaan yang tetap menjaga konsep Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI.

Untuk itu, sebagai WNI kita harus konsisten dengan nilai-nilai luhur Pancasila dan norma hukum berdasar UUD 1945 dalam setiap kita memikirkan masalah bangsa pada semua lini kehidupan sosial dan politik yang mempengaruhinya. Dengan berpikir Indonesia kita juga dituntut untuk senantiasa menjaga konsistensi perilaku yang beradab dalam dimensi semangat Bhineka Tunggal Ika dan jangan lagi ada pola pikir yang sektarian atau menonjolkan ego kelompok atau golongan baik secara komunitas atau kedaerahan. Hal ini perlu dijaga agar NKRI terhindar dari pola pikir yang bisa memecah belah nilai Persatuan Indonesia.

Mengapa saya mengajak untuk berpikir Indonesia ? Jawabnya satu, agar kita Cinta Tanah Air Indonesia. Sebab dalam beberapa tahun terakhir ini saya melihat berbagai permasalahan bangsa bahwa penyelesaiannya bukan berpikir sebagai orang Indonesia sehingga banyak kecenderungan sikap dan perilaku sementara pihak yang tidak segambar dengan jatidiri bangsa, semakin pudarnya nilai-nilai keteladanan dari pihak-pihak yang harusnya menjadi panutan sehingga muncul inkonsistensi moral politik ( dari yang tadinya narasumber berubah menjadi narapidana) dll. Sampai kapanpun cara pikir di luar moral ke-Indonesia-an tidak akan berdampak positip untuk keadaban kita sebagai satu bangsa yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur sebagaimana cita-cita proklamasi kemerdekaan.

Jika kita konkretkan berpikir masalah kebangsaan yang bisa berdampak positip dengan kondisi nyata saat ini adalah bagaimana akal yang kita miliki bisa berpikir untuk mengatasi bersama dampak pandemi covid19. Kita ketahui bersama bahwa hampir seluruh negara di dunia saat ini berhadapan dengan isu pandemi covid19. Pun tidak terkecuali Bangsa dan negara Indonesia. Bukankah seharusnya kita fokus untuk berpikir menyelamatkan nasib anak bangsa dari dampak yang ditimbulkannya, seperti memikirkan aspek peningkatan kesehatan (dengan Protokol kesehatan, aturan dan sarana pendukungnya), kemajuan pendidikan generasi muda, fasilitasi dukungan kesejahteraan serta tetap menjaga stabilitas kehidupan sosial, baik secara jasmani maupun rohani di samping pemenuhan kebutuhan sandang pangan.

Hal-hal lainnya yang sudah menjadi ketetapan dan masih bisa dilaksanakan, kita konsisten saja untuk menjalankannya serta tidak membuat masalah baru yang akan menguras enerji dan pengeluaran negara yang tidak efisien (red: misalnya untuk apa lagi membahas yang sudah disepakati, contoh isu Pilkada serentak 2024 ). Bukankah sejatinya kita fokus saja mengatasi kebutuhan rakyat dalam masa-masa pandemi covid19 yang penularannya sudah melebihi jumlah 1 (satu) jutaan. Jadi cara berpikir Indonesia yang harus kita bangun semestinya bisa menjawab masalah kekinian bangsa.

Kontemplasi posisi bangsa kita saat ini, jika kita umpamakan kita berada di padang gurun pasir yang terik matahari, maka yang perlu kita pikirkan bagaimana kebutuhan air tercukupi agar kelangsungan bertahan hidup terjawab sebab kebutuhan dasar saat di gurun adalah air. Analog berpikir kita saat ini sepertinya kita sibuk membuat payung untuk berteduh dari terik matahari, padahal kita posisi butuh air untuk bertahan hidup di tengah tengah terik matahari gurun pasir. Artinya bahwa gencarnya saat ini upaya membahas revisi UU Pilkada 2024 dengan alasan isu demokratisasi belum tentu optimal atau berdampak signifikan mengatasi isu kekinian yaitu dampak covid19. Perdebatan Isu Pilkada 2024 tersebut sejatinya secara objektif sudah menjadi regulasi yang sudah disepakati sebagai hukum positip hasil produk legislasi oleh lembaga yang sama, untuk itulah dibutuhkan konsistensi moral politik untuk melaksanakannya terutama oleh pemangku kepentingan.

Semoga menjelang tahun kedua musim pandemi covid19 , kiranya akal kita dalam berpikir Indonesia semakin bernas dan bermanfaat untuk kemajuan manusià secara global khususnya untuk bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai, agar tetap sehat dan sejahtera.

Dr.Bangun Sitohang, Ketua Belajar Menjadi Orang Indonesia. ( BeMOI).

Pewarta : Sfn

News Feed