oleh

Belajar Menjadi Orang Indonesia akan Memperkuat Karakter Bangsa.

-Nasional-32 views

Setiap mahluk hidup yang punya naluri , nurani dan nalar pasti tidak terlepas dari lingkungan di mana dia berada, sehingga karakter setiap individu itu tergantung atas lingkungan yang mempengaruhinya. Pengaruh tersebut bisa karena individu lain atau alam dan lingkungan sosial yang menjadi ruang geraknya. Bisa juga secara alamiah karena nasib atau sejarah hidup yang sama baik dalam suka maupun duka. Dari rasa senasib dan sepenanggungan tersebut, maka pada akhirnya setiap individu kemudian menjadi “orang” yang memiliki jatidiri dan karakter dalam kepribadiannya. perkembangan selanjutnya bisa juga karena kesamaan pengalaman lingkungan berubah menjadi karakter kelompok dalam organisàsi sosial.

Pertanyaan sederhana, apakah setiap orang yang lahir dan besar di Indonesia dengan sendirinya berkarakter orang Indonesia? Belum jaminan, alasannya juga sederhana, karakter bukan warisan yang turun secara otomatis tiap generasi tetapi harus “diajarkan”. Sifat karakter cenderung karena adanya nilai koqnetif dan afektif yang membuat setiap individu menjadi “konatif” dengan lingkùngan yang mempengaruhinya. Kita ambil contoh, apabila kita punya 2 orañg anak, sejak kecil yang satu tinggal di Amerika (misal) dan satu anak lagi menetap di Indonesia. Mereka berdua dari orangtua yang sama. Jika 20 Tahun kemudian dipertemukan, apakah secara otomatis anak yang dititip tinggal di AS langsung berkarakter Indonesia? Sama seperti saudaranya yang tinggal di Indonesia ? Tentu tidak, karena “bahan ajar” atau “materi pengalaman sosial” yang diterima atau diajarkan sangat berbeda satu sama lain. Inilah mengapa kita harus mengajarkan Karakter yang sesuai Jatidiri bangsa Indonesia bagi setiap orang Indonesia ( dari PAUD dan SD ) karena semua pembentukan karakter harus dimulai dari usia dini. Pokok pikiran ini juga yang mengharuskan perlunya Belajar Menjadi Orang Indonesia.

Mengapa kita perlu belajar menjadi Orang Indonesia ? Karena setiap generasi pasti akan berakhir secara kodrati sesuai batas usia manusia. Apakah dengan berakhirnya batas usia tersebut, kita lantas tidak lagi memiliki generasi orang Indonesia ? Tentu tidak karena ada estafet peradaban sesuai zaman yang dilaluinya. Untuk itulah perlu terus dibangun karakter Orang Indonesia, dulu Ir.Soekarno pernah menggelorakan Character Building. Beliau sudah meramalkan bagaimana merawat Indonesia masa depan.

Jika demikian apa sebenarnya karakter yang perlu dibangun sehingga setiap generasi yang tinggal di NKRI bisa disebut paling tidak Menjadi Orang Indonesia. Khusus dalam tulisan ini saya ingin membatasi pemikiran dalam perspektif setelah Kemerdekaan 17 Agustus 1945 , yang mana kita menjadi bangsa yang merdeka, bersatu berdaulat , adil dan makmur dengan jatidiri nilai Pancasila dan norma UUD 1945 dalam bingkai NKRI dalam relasi kebangsaan yang Bhineka Tunggal Ika. Karakter yang tematik wawasan kebangsaan Indonesia ini penting menjadi sumber bahan ajàr agar terpatri sebagai orang Indonesia. Jika kita sejak dini secara sadar dan terencana ikut menggelorakannya, maka bangunan karakter kebangsaan akan berdampak positif terhadap pembangunan nasional.

Selanjutnya dari mana kita mulai belajar menjadi orang Indonesia? Sudah tentu dimulai dari kualitas relasi sosial di keluarga dan masyarakat dengan tampilan – tampilañ keteladan yang merupakan gambaran nilai-nilai Pancasila dan norma UUD 1945. Implementasinya dapat dipeŕkuat setelah setiap warga bangsa mulai masuk ke dunia pendidikan formal dan informal dari mulai PAUD sampai pendidikan tinggi. Sehingga pengajaran tentang nilai pancasila dan norma UUD 1945 serta peraturan turunannya terintegrasi dalam kurikulum tematik kebangsaan. Cepat atau lambat akan menjadi jiwa generasi bangsa dalam keadaban zaman yang dilaluinya.

Sederhananya jika belajar menjadi orang Indonesia, patuhi semua regulasi atau peraturan perundang-undangan serta, harus ada kesadaran untuk menjiwai nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena dalam jiwa Pancasila tersebut tertuang gambaran orang Indonesia yang relijius yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Demikian juga orang yang taqwa pasti menjalankan akhlak (sesuai ajaran agamanya) , yang bisa berjiwa adil terhadap keadaban manusia lainnya, dampak positipnya terbangun rasa memiliki dan saling menjaga (kebersamaan) atau rasa persatuan sebagai satu bangsa. Pada sisi lain, melalui musyawarah ( dengan jiwa gotong royong), kita akan mampu membangun kehidupan demokratis ( yang menjaga keseimbangan hak dan kewajiban) dalam menentukan kebijakan-kebijakan untuk membangun kehidupan sosial yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Penguasaan Pemahaman nilai Pancasila tersebut secara gradual akan membentuk karakter. Untuk penguatan karakter tersebut, dan agar konkret dalam realitas dan relasi sosial maka diperkuat secara tertulis dalam Undang Undang atau bentuk peraturan. Sebab kita sudah sepakat negara berdasar hukum bukan persepsi, atau katanya , inilah anomali yang selalu membuat gaduh dalam relasi sosial.

Sebagai konklusi sementara, dari berbagai urain di atas dan mencermati situasi yang sering terjadi dan berulang-ulang, sepertinya untuk menguatkan karakter bangsa, maka kita perlu menggelorakan kesadaran pentingnya “Belajar Menjadi Orang Indonesia”.

Penulis : Dr. Bangun Sitohang, Ketua Belajar Menjadi Orang Indonesia (BeMOI).

News Feed