by

Puluhan Tokoh  Bentuk Koalisi Aksi Selamatkan Indonesia (KAMI)

Jakarta, Monasnews.com – Sejumlah Tokoh lintas profesi yang selama ini kritis terhadap pemerintah Jokowi berkumpul di bilangan Fatmawati Jakarta Selatan. Selama 5-15 menit para tokoh nasional ini memberikan pandangannya sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya terkait kondisi aktual bangsa.

Mereka adalah Rachmawati, Soekarnoputri, Rizal Ramli, Gatot Nurmantyo, M. Din Syamsuddin, Rochmat Wahab, Abdullah Hehamahua, Kwik Kian Gie, Bachtiar Chamsyah, MS. Kaban, Said Didu, Rocky Gerung, Muhammad Sidik, Anthony Budiawan,  Ichsanuddin Noorsy, Muchsin Al-Atas, M. Hatta Taliwang, Mirah Sumirat, Tedjo Edhy, Edwin Soekowati, Refly Harun dan tokoh lainnya.

“Kami sebagai perwakilan masyarakat yang peduli akan masa depan Negara dan Bangsa Indonesia berkumpul dalam forum bernama Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI),” ujar  Dr. Ahmad Yani menjelaskan keberadaan KAMI dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu, (2/8/2020).

Menurut Ahmad Yani, hingga kini sudah ratusan tokoh yang ikut bergabung dalam KAMI. Mereka terdiri dari mantan pejabat, pengamat, aktivis kampus, tokoh agama dan tokoh masyarakat. KAMI lahir dengan tujuan untuk menyumbangkan gagasan solusi terhadap permasalahan aktual bangsa yang terjadi saat ini. “Kami tidak pada tujuan untuk melakukan gerakan politik melawan penguasa,” imbuh Yani.

Mantan Kepala BNP2TKI yang juga aktivis mahasiswa ITB tahun ’80-an, Moh Jumhur Hidayat tampil pertama memberikan pandangannya. Menurut Jumhur bahwa masa depan Indonesia yang kian terpuruk ditambah dengan adanya Covid19, kita melihat pemerintah tidak tanggap menangani permasalahannya atau menjadi tidak konvergen dalam menangani masalah bangsa ini.

Jumhur menegaskan, bahwa keadaan ekonomi dalam 2 bulan ke depan akan makin parah karena kemampuan pemerintah untuk memberikan bantuan sosial makin terbatas. Covid19 juga menyebabkan adanya 5 Juta buruh dan karyawan yang kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan yang pasti mereka akan menuntut sembako.

“Semua permasalahan sosial ekonomi ini akan menjadi pekerjaan besar bersama para tokoh yang ada di forum ini untuk mengatasinya. Karena itu, forum ini menjadi penting untuk mengkorvengen  untuk mengatasi permasalahan itu,” ujar Jumhur.

Bagi pengamat Politik Rocky Gerung, menilai apa yang dilakukan Presiden Jokowi dengan mendukung pencalonan Gibran Rakabuming untuk maju sebagai Walikota Solo dari PDIP yang  belum lama ini melakukan transaksi politik dengan Wakil Wali Kota Solo, Achmad Purnomo.

“Apa yang dilakukan Jokowi itu merupaka prostitusi politik sama kasuspelacuran artis Hana Hanifah.  Ini adalah political prostitution. Ya, pelacuran politik yang lebih berat hukumannya dari pada dengan artis yang terlibat dalam kasus prostitusi. Keduanya sama-sama melakukan prostitusi,” ujarnya.

Rocky menjelaskan, prostitusi artinya secara mendasar adalah transaksi. Jadi, baik Jokowi maupun Hana sama-sama melakukan transaksi.

Purnomo diketahui mengaku ditawari jabatan strategis lain oleh Jokowi karena tak diberikan kursi Calon Wali Kota Solo oleh PDI-P. Partai lambang banteng itu lebih mendukung anak Jokowi, Gibran Rakabuming. (Zul)

News Feed