oleh

Kesbangpol DKI Jakarta-BNPT Sosialisasikan Pencegahan Terorisme kepada Bhabinkamtibmas, Lurah, Babinsa

-Nasional-1 views

Jakarta, Monasnews.com – Kepala Bakesbangpol  yang juga Ketua FKPT Provinsi DKI Jakarta, Drs. Taufan Bakri, M.Si hadir sebagai Narasumber utama dalam kegiatan Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) dalam rangka Penanganan Penyebaran Paham Radikal Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) dalam Peningkatan Kemampuan Pemahaman pada Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Lurah dalam Penanggulangan Terorisme,” di Jakarta Kamis,  (7/9/2020).

Berbicara dengan tema  “Kebijakan Pemda DKI Jakarta dalam Penanganan Penyebaran Paham Radikal pada kegiatan dalam Peningkatan menyampaikan materi tentang Kebijakan Pemda DKI Jakarta dalam Penanganan Penyebaran Paham Radikal Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) dalam Peningkatan Kemampuan Pemahaman pada Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Lurah dalam Penanggulangan Terorisme.”

Menurut Taufan, kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh pelaksana tugas dan fungsi Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Lurah di Provinsi DKI Jakarta terkait dengan aksi terorisme. Selain itu, juga dimaksudkan untuk meningkatkan sinergitas dan koordinasi stakeholders Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Lurah dalam penanggulangan terorisme yang terintegrasi.

Kepala FKPT DKI Jakarta menjelaskan, bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami beberapa cobaan di dalam masa pandemi ini. Tidak hanya cobaan dalam menghadapi ancaman virus corona, namun terdapat ancaman virus yang juga sangat berbahaya yaitu ancaman penyebaran paham radikal terorisme dan beberapa aksi terorisme yang mengganggu stabilitas keamanan dan ketertiban Negara.

Mengutip pernyataan Kepala BNPT, Boy Rafli Amar  dalam Rapat Kerja  dengan Komisi III DPR RI yang menyatakan bahwa kelompok radikal masih aktif melaksanakan aksinya melalui propaganda perekrutan, baik secara online maupun offline selama masa Pandemi Covid – 19 ini. Tidak hanya itu, selama masa pandemi, Densus 88 juga telah menangkap beberapa terduga teroris di berbagai wilayah Indonesia, contohnya adalah penangkapan terduga teroris di Sidoarjo, Surabaya, Banten, Cirebon dan Riau yang dilakukan saat masa pandemi ini.

Taufan mengatakan, mengingat hal tersebut dapat disimpulkan bahwa aksi terorisme di Indonesia tidak mengenal waktu, tempat dan juga korban, sehingga dibutuhkan strategi penanggulangan terorisme yang efektif, yang menyasar mulai dari hulu sampi ke hilir serta dibutuhkan adanya peran serta seluruh komponen bangsa untuk bersama dalam penanggulangan terorisme.

Taufan juga mengutip pendapat Ridwan Habib, salah satu Pengamat Terorisme Universitas Indonesia yang menyebutkan bahwa terdapat 3 (tiga) sikap kelompok radikal terorisme selama pandemi Covid 19.

Pertama, kelompok yang  memahami bahwa Covid-19 tidak mengenal calon korbannya sehingga mereka (kelompok teror) cenderung tidak melaksanakan aksinya. Kelompok ini menganggap mereka lebih baik mengamankan diri sendiri dengan artian menjaga kesehatan.

Kelompok kedua menganggap bahwa pandemi ini sebagi cobaan dari Tuhan, sehingga mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk merekrut kader-kader baru secara daring serta memanfaatkan situasi pandemi untuk mendidik kader yang telah direkrut sebelumnya.

Kelompok ketiga meyakini bahwa pandemi Covid-19 ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan serangan aksi terorisme. Hal ini dikarenakan mereka menganggap pemerintah dan aparat kepolisian sedang fokus dalam menjalankan tugas yang terkait dengan Covid 19.

Kedua fenomena tersebut, lanjut Taufan, tentunya menjadi potensi ancaman dan aksi terorisme khususnya pada masa Pandemi ini mengingat jumlah kasus corona di Indonesia menyentuh angka lebih dari 50.000 spesimen yang positif dengan penyebaran dan jumlah tertinggi terdapat pada provinsi DKI Jakarta.

“DKI Jakarta yang merupakan ibu kota negara, pusat pemerintahan dan juga pusat ekonomi dengan penyebaran dan angka tertinggi dalam penyebaran virus ini, tentunya mendapat perhatian penuh dari pemerintah,” katanya.

Di sisi lain, kelompok radikal teroris tentunya juga melihat fenomena tersebut menjadi momen untuk melancarkan aksi terorisme di DKI Jakarta. Dengan kata lain, kewaspadaan dan pencegahan terkait ancaman aksi terorisme khususnya di DKI Jakarta juga harus ditingkatkan.

BNPT selaku koordinator dalam penanggulangan Terorisme di Indonesia melihat bahwa deteksi dini di lingkungan masyarakat perlu di tingkatkan. Dibutuhkan adanya peran serta unsur yang dekat langsung dengan rakyat yaitu Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Lurah.

Ketiga unsur tersebut merupakan tiga pilar pembina masyarakat dan juga ujung tombak keamanan, ketertiban dan pelayanan langsung terhdap masyarakat. Babinsa adalah pilar pertahanan dan keamanan di desa, Babinkamtibmas pilar perlindungan dan pengayom masyarakat dan Lurah/ Kades adalah pilar  pelayanan pemerintahan di desa.

Taufan menambahkan, dalam konteks kemampuan deteksi dini, bahwa para anggota Bhabinkamtibmas dan Bhabinsa membutuhkan pelatihan-pelatihan yang spesfik untuk mendukung peran sebagai agen intelijen terbuka dalam deteksi dini, seperti kemampuan wawancara tersamar, menganalisis kejadian dan informasi, serta mengklasifikasikan derajat informasi. Sementara peran lurah adalah sebagai perangkat desa memiliki peran yang strategis dalam pencegahan terorisme dan radikalisme di Indonesia. Perangkat desa akan lebih mengenali setiap kondisi warganya. Termasuk adanya pendatang dan aktivitas warga yang mencurigakan.

Melihat potensi ancaman tersebut, kata Taufan, maka perlu dilakukan antisipasi melalui pemberdayaan fungsi “Deteksi Dini dan Cegah Dini” untuk mencegah terjadinya terorisme yang menitikberatkan pada tindakan preventif di Provinsi DKI Jakarta.

BNPT melalui Direktorat Pembinaan Kemampuan akan fokus dalam memperketat sistem keamanan lokal yang ada di wilayah. Sistem kewaspadaan lokal ini dengan mengaktifkan dan mengoptimalkan Lurah, Babinsa serta Babinkamtibmas dalam menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat.

“Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Lurah sebagai ujung tombak pemeliharaan dan peningkatan kamtibmas di setiap kelurahan, diharapkan mampu mendeteksi dan mencegah dari berbagai gangguan kamtibmas khususnya aksi terorisme,” tutur Taufan.

Oleh sebab itu, katanya, didasarkan pada perkembangan lingkungan strategik atau dinamika masyarakat serta berbagai aksi kejahatan termasuk tindakan terorisme yang terjadi, diperlukan peningkatan kemampuan Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Lurah tentang penanggulangan terorisme.

Berdasarkan uraian tersebut untuk dapat meningkatkan deteksi dan pencegahan dari berbagai aksi kejahatan, khususnya tindakan terorisme di  Provinsi DKI Jakarta, Direktorat Pembinaan dan Kemampuan BNPT akan melakukan Peningkatan Kemampuan Pemahaman Pada Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Lurah tentang penanggulangan terorisme. (z)

News Feed