oleh

Implementasi Nilai Pancasila Dalam Tindakan Menghadapi Covid19

-Nasional-24 views

Hampir setiap pihak di seluruh dunia membicarakan isu Covid-19, ada yang cerita dampak dengan berbagai pandangan, dan mencari solusi pencegahannya melalui riset-riset pembuatan vaksin dan lain sebagainya. semua upaya tersebut jika kita maknai adalah kepedulian bersama untuk memperkuat semangat dalam menghadapi tantangan global.

Namun kali ini saya ingin fokus pada bahasan memaknai nilai Pancasila dalam tindakan, dalam hal ini mencari tau sejauhmana kita sebagai WNI yang jatidirinya berdasar nilai Pancasila mampu menghadapi isu pandemi Covid-19, yang kita tidak tau kapan berakhirnya, artinya dibutuhkan keyakinan secara bersama-sama untuk menghadapinya ( bergotong rorong ) sesuai profesi atau bidang tugas masing-masing.

Implementasi nilai-nilai Pancasila hanya membutuhkan sebuah kesadaran akan pentingnya senantiasa belajar menjadi orang Indonesia (BEMOI), karena kehidupan ini adalah proses yang selalu memiliki estafet generasi yang berkesinambungan sehingga melahirkan sebuah peradaban manusia.

Kenapa penekanannya pada BEMOI dalam sikap berbangsa dan bernegara ? Jawabnya sederhana, karena nilai-nilai Pancasila adalah jatidiri bangsa Indonesia, artinya bicara masalah “bangsa” filternya harus nilai Pancasila, agar tindakan kita “nyambung” melihat setiap permasalahannya. Jika tidak menggunakan Pancasila, maka tidak ada titik temu dalam membahas masalah Kehidupan bangsa dan negara. Karena Pancasila Pandangan hidup ( filosofis ) berbangsa, selanjutnya sikap berbangsa dan bernegara juga harus segambar dengan sikap dan perilaku kita (berkarakter) orang Indonesia.

Untuk itu nilai Pancasila sebagai tindakan yang bisa kita lakonkan dalam menyikapi tantangan isu covid-19, disamping mematuhi langkah-langkah protokol kesehatan , perjuangan tim medis dan gugus tugas penanganan covid-19.
Berikut ini saya coba memaknai penanganan masalah covid-19 dalam perspektif nilai Pancasila, sebagaimana uraian selanjutnya.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
Sikap kita sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, sejak perjuangan kemerdekaan kita telah ikrarkan seperti di pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia adalah atas berkat Rahmat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Artinya semua nikmat yang kita miliki sebagai satu bangsa adalah dari Tuhan Yang Maha Esa, makanya kita selalu disebut bangsa yang relijius. Pun demikian dalam menghadapi semua masalah yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19, kita harus yakin semua tantangan kita dalam dimensi kebangsaan pasti ditolong oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga kita memiliki semangat yang tinggi dalam jiwa gotong royong menyelesaikan setiap masalah berbangsa dan bernegara, dengan iman dan yang bertaqwa.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Nilai Pancasila ini tentu tidak terpisah dari sila pertama, artinya manusia relijius pasti memiliki rasa kemanusiaan yang menjunjung tinggi rasa keadilan. Jika saat ini kita dihadapkan dengan dampak Covid-19, sebagai manusia ciptaan Tuhan kita harus tetap bersyukur dengan apa yang telah kita miliki baik status sosial maupun kehidupan lahir dan batin yang kita rasakan dalam berbangsa. Dibutuhkan sebuah kesadaran moral untuk saling berbuat atau saling membantu satu sama lain. Jika kita saat musim Covid-19 saat ini melihat banyak saudara kita yang kena dampak sosial dan terjadi perubahan sosial, maka jika dikatakan kita manusia, sepatutnyalah bisa saling membantu dan gotong-royong untuk meringankan beban sosial masyarakat agar tidak terjadi ketimpangan sosial. Jika kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sesama kita manusia (anak bangsa), barulah kita disebut manusia yang beradab. Tapi jika kita tidak peduli atas penderitaan akibat dampak Covid-19 yang dialami saudara kita sebangsa dan setanah air, maka kita belum manusia yang beradab, apalagi kita membeda-bedakan orang yang mau kita bantu dan mengurangi takaran jumlah yang telah ditentukan, oleh karenanya sila ke 2 Pancasila adalah nilai rasa kemanusiaan untuk tetap terjaganya harmoni kehidupan dan relasi sosial yang seimbang sesuai keadaban manusia.

3. Persatuan Indonesia.
Jika kita sudah menjadi manusia yang tau bersyukur (relijius) dan kemudian bisa menjaga relasi sosial dengan jiwa yang berkeadilan, maka akan terlihat dalam pergaulan antar sesama anak bangsa, ada rasa saling menjaga satu sama lain, yang pada akhirnya terbentuk harmoni kebangsaan atau nilai Persatuan Indonesia. Kata kunci nilai persatuan bahwa kita harus saling menghormati sesama anak bangsa. Kita lahir sebagai satu bangsa diantaranya juga karena disatukan rasa senasib sepenanggungan. Jiwa silaturahmi adalah kodrati manusia sebagai makhluk sosial, untuk itu sikap kita dalam pergaulan sosial juga tidak terlepas dari aspek ketergantungan, di sinilah dituntut sikap kesetaraan diri dan keseimbangan sosial antar sesama warga bangsa , sehingga jangan kita saling mempermasalahkan perbedaan, justru selanjutnya dengan konsep Bhineka Tunggal Ika lah kita kokoh persatuannya dalam bingkai NKRI. Hal ini dipertegas dalam pembukaan UUD 1945, jelas dinyatakan kita bangsa yang merdeka, bersatu dan berdaulat. Dengan ikrar tersebut kita harus yakin bahwa kehidupan berbangsa adalah proses yang tidak terlepas dari masalah dalam pembangunan nasional, dalam konteks ini masalah Covid-19. Apapun itu dampaknya diperlukan rasa persatuan agar saat pandemi Covid-19, kita bersama-sama (gotong royong) untuk mengikuti regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Dari semua itu, hendaknya setiap pemangku kepentingan harus memahami posisi masing-masing dan tidak saling mendahului dalam bertindak melainkan menjiwai nilai musyawarah mufakat, sehingga terbangun kekuatan dan semangat yang kokoh dan seberat apapun tantangan bangsa dapat teratasi dengan ukuran konstitusional bukan like or dislike.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawatan/perwakilan.

Karena kita bangsa yang relijius dan manusia yang beradab, yang tidak bisa hidup sendiri sehingga perlu melakukan relasi sosial dalam persatuan Indonesia. Artinya kita harus berhikmat bahwa semua nikmat kemerdekaan yang kita rasakan adalah Rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Itulah sebabnya kerakyatan kita dalam proses kebijaksanaannya tetap memperhatikan hikmat ( rasa syukur ), sehingga semua pengambilan keputusan besar untuk perbaikan masalah bangsa pastilah sudah melalui semangat musyawah mufakat , dan terbitnya berbagai kebijakan regulasi tentang Covid19, ambil contoh seperti Regulasi pergeseran jadwal Pilkada 2020. Dalam hal ini, kita harus berhikmat bahwa semua keputusan yang diambil karena sudah mempertimbangkan masalah kehidupan bangsa, konkretnya kita harus patuhi setiap ketentuan hukum positip.
Sebagaimana dijelaskan di awal bahwa kita harus berpikir regulatif dalam menghadapi masalah bangsa, pun isu pandemi covid19. Artinya kita harus yakin pemerintah telah memikirkan semua yang terbaik untuk bangsa, harus kita pahami juga pemerintah adalah pelaksana Undang-Undang yang dibuat oleh DPR RI, sehingga pemerintah bertindak sesuai UU. Pun sebagai warganegara, kita harus mempercayakan para wakil rakyat yang telah kita percaya yang membuat UU tersebut. Jika kita sebagai WNI merasa tidak puas dengan suatu kebijakan dan dianggap tidak sejiwa UUD 1945, biasakan menyelesaikannya secara regulatif dan, ada tempat pengaduannya ke Mahkamah Konstitusi. Semua ini adalah proses membangun hikmat kebijaksanaan dalam konsep musyawarah. Artinya tidak ada kepentingan individu dalam menyelesaikan masalah bangsa tetapi harus menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan melalui perwakilan.Jika kita melakonkan hal ini dalam kehidupan sosial kita terutama menghadapi pandemi covid-19, kita akan tetap kokoh dalam mensukseskan pembangunan nasional.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jiwa relasi sosial yang sudah terbentuk dalam semangat persatuan Indonesia, sudah dipastikan karena kita memiliki sifat kemanusiaan yang kodrati untuk sesama. Misalnya saat munculnya isu pandemi covid-19, bahwa terjadi dampak sosial yang diakibatkannya perlu solusi penanganannya secara terencana dan terukur sehingga manfaatnya dirasakan setiap WNI yang terdampak. Pemerintah dan masyarakat dengan jiwa gotong royongnya telah menyalurkan berbagai item bantuan untuk mengatasi masalah sosial yang diakibatkan covid-19. Ini adalah bentuk nilai Pancasila yang memperhatikan keadilan sosial. Kalaupun dalam pelaksanaanya kita melihat ada yang merasa tidak puas atau tidak mendapatkan distribusi bantuan, seharusnya tindakan kita adalah mencarikan solusinya bukan mempermasalahkan. Kita harus bersama-sama memikirkannya. Misal, bagi yang masih berkecukupan secara finansial sepantasnya ikhlas memberi bantuan di lingkungan sekitarnya yang membutuhkan, dan jangan kita mengambil atau mengurangi hak orang lain. Jika nilai sila ke 5 dari pancasila ini kita implementasikan dalam relasi kehidupan sosial, pastilah terwujud rasa keadilan sosial. Perwujudan rasa keadilan sosial tersebut dalam masa pandemi covid-19 , karena yang kita hadapi adalah bencana nasional non fisik , tentu dibutuhkan kebersamaan segenap elemen masyarakat dengan (jiwa gotong royong) untuk mengatasi dampak covid-19 tersebut.

Dari uraian pembahasan nilai Pancasila dalam tindakan mengatasi dampak covid-19 di atas, kemudian kita ditawarkan dengan istilah fase baru yang disebut “new normal”, apa sebenarnya yang ditawarkan tersebut ? Bagi saya mudah menjawabnya, kita kembali kepada konsep hidup yang tetap memperhatikan “jiwa bersih” dalam tindakan, baik itu menjaga kesehatan fisik ( jasmani ) maupun kesehatan jiwa secara psikis ( rohani ). Kebiasaan lama tindakan kita yang tidak sesuai nilai Pancasila, mari kita tinggalkan, sehingga kita mulai “kembali baru” atau new normal pasca Covid-19. Karena kehidupan itu proses, maka kita harus mau belajar menjadi orang Indonesia ( BEMOI). Syaratnya cukup ikhlas memahami Pancasila dan menjadikan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan, dalam hal ini menghadapi dampak covid-19.

Bangun Sitohang, fungsionaris MPN Pemuda Pancasila bidang idiologi, politik dan pemerintahan dan juga Ketua BEMOI ( Belajar menjadi orang Indonesia). (Fin)

(Penulis : Bangun Sitohang)

News Feed