oleh

Virus Corona Setan, Perang! Tapi Siapa Panglimanya?

-Nasional-17 views

Ada yang mengatakan bahwa virus Corona itu adalah tentara Allah yang diturunkan untuk menghukum manusia. Benarkah?
Prof Quraish Shihab tidak sependapat dengan yang mengatakan bahwa virus Corona itu tentara Allah tetapi lebih memilih mengatakan bahwa virus Corona itu adalah setan yang harus kita lawan dan musuhi.

Quraish Shihab dalam Youtube Shihab dan Shihab, menjelaskan bahwa itu bukanlah siksa Allah sebab wabah corona melanda dunia, mengenai orang-orang baik dan tak berdosa. Apakah mereka disiksa juga? Quraish lebih memilih menyebut sebagai bencana berupa ujian dari Allah untuk umat manusia yang dewasa ini sering angkuh dan merasa mampu melakukan segala sesuatu.

Wabah corona, menurut Quraish adalah bencana berupa ujian. “Kita harus sadar orang yang tak salah, dekat sama Allah juga wafat karena bencana ini. Mereka akan mendapatkan nikmat dan ganjaran dari Allah.
Mereka yang wafat karena thaun, wabah penyakit pada masa Nabi dan sahabat Nabi, dinilai sebagai syahid. Kematian akibat virus corona, serupa dengan ganjaran orang yang meninggal di medan perang karena Allah. Tentu saja, syahidnya tidak sama dengan yang gugur di dalam peperangan membela kebenaran (“dalam proses pemakaman”) tapi yang wafat karena Corona adalah juga syahid. Syahidnya dinamai syahidul Akhirat.
Quraish kemudian mengunci pandangannya dengan menyatakan bahwa: “Virus corona ini sebenarnya sebagai bagian dari setan-setan. Oleh karena itu, saya tidak sependapat kalau virus ini disebut sebagai tentara Allah,” kata Quraish Shihab.”

Quraish pun berargumen dengan mengutip kisah Nabi Ayyub yang terkena wabah penyakit dahsyat yang tak ada tabib sanggup mengobatinya saat itu, yang menyatakan: “setan telah menimpa aku dengan penyakit yang melelahkan dan menyiksa. Dia namai penyakit itu disebabkan oleh setan atau dengan kata lain virus-virus. Nabi pun juga mengisyaratkan bahwa virus-virus tha’un itu adalah setan, ulah jin, dan kita ketahui bahwa jin adalah sesuatu yang tersembunyi, salah satu diantaranya adalah virus-virus itu. Karena itu, kalau dia setan, kita harus musuhi, kita hindari, dan kita harus perangi.

Lantas bagaimana cara kita memerangi virus Corona yang setan itu? Pertama, tentu tahu ilmu perangnya dan salah satunya adalah social distancing, atau bahkan Lockdown seperti yang pernah dicontohkan pada masa Nabi dan sahabatnya. Tapi yang lebih penting, supaya kita bisa keluar sebagai pemenang dalam perang, kita butuh panglima perang yang berani, jujur, dapat dipercaya, lebih mengutamakan kepentingan yang dibelanya, tidak menarik keuntungan pribadi atau kelompoknya di balik peperangan itu.

Tidak kalah pentingnya, karena perang itu adalah hitung- hitungan, maka pantang dia tidak tahu atau menyembunyikan fakta atau data. Misalnya, sejak kapan sesungguhnya musuh setan Corona itu telah menyerang bangsa kita, dan sudah berapa korban yang sesungguhnya.

Di samping itu, Sebagai Panglima Perang melawan Setan Corona, sang Panglima juga harus bekerja keras melengkapi pasukannya dengan alat kelengkapan perang yang standar. Dan jangan lupa menyiapkan logistik rakyat selama masa perang. Logistik jangan ditimbun. Segala kekayaan negara saatnya dikerahkan untuk membiayai perang melawan musuh setan Corona. Kekayaan negara yang semula untuk dipakai membangun proyek kebanggaan ditunda dulu tanpa harus menimbang dan memperhitungkan pihak-pihak yang mendapat keuntungan di balik proyek itu. Biarkan mereka buntung, daripada rakyat yang buntung. Itu baru pemimpin namanya.

Tidak kalah pentingnya adalah menerbitkan aturan standar semacam hukum peperangan yang tepat, adil dan benar untuk kemaslahatan dan kemenangan bersama. Bukan aturan hukum yang apa adanya. Apalagi jika hanya mampu dilaksanakan secara apa adanya, serta tidak kompak dan tidak tegas.

Jika semua kriteria itu dipenuhi oleh sang panglima perang, insya Allah kita akan keluar sebagai pemenang. Tapi jika tidak, kita akan kalah dengan korban jiwa tak terkira dan tak terperih, lalu kita pun dikenal sebagai bangsa pecundang karena dipimpin oleh orang yang tidak becus mengurus rakyatnya. Semoga saja tidak. Memang, pemimpin akan diuji oleh tindakannya dalam menghadapi krisis bukan oleh kata-katanya atau pencitraanya. Kita butuh pemimpin yang secara lahir batin mau dan bisa bertanggung jawab terhadap keselamatan rakyat yang diperjuangkannya.

Menyelamatkan nyawa rakyat jauh lebih penting daripada yang lainnya (ekonomi atau apapun!). Pertanyaannya adalah adakah dan siapakah pemimpin itu yang bisa menjadi panglima perang untuk memenangkan kita? Sebuah pertanyaan yang belum jelas jawabannya. (Kanigoro.com / Lutfi)

News Feed