oleh

Kesbangpol DKI Minta Ormas Jaga Rumah Besar Pluralisme Jakarta

-Politik-58 views

CISARUA – EFEK globalisasi dan modernisasi yang melanda ibukota Jakarta telah mengubah semua tatanan terhadap pemikiran, politik, ekonomi, budaya, agama, etnis, termasuk dimensi keamanan dan pertahanan keamanan.  Interaksi budaya yang berbeda itu merupakan sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, adalah tugas kita bersama untuk menghadapi tantangan  keberagaman nilai, budaya dan agama di era globalisasi ini.

“Jakarta adalah Rumah Besar kita bersama yang harus kita jaga sebagai warisan luluhur. Perbedaan status sosial ekonomi, pandangan politik, keragaman budaya, etnis, agama, hingga adat istiadat harus terus kita gali dan kembangkan sebagai modal dasar membangun kota Jakarta,” ujar Plt. Kesbangpol DKI Jakara, Drs. Taufan Bakri di hotel Griya Astuti, Cisarua, Bogor Senin (12./11/2018).

Berbicara dengan tema kegiatan “Peningkatan Peran Organisasi Kemasyarakatan dalam Pembangunan Angkatan VIII” dihadapan ratusan organisasi kemasyarakatan (Ormas), Taufan Bakri menjelaskan, pluralisme itu berarti kesediaan kita untuk menerima keberagaman (pluralitas), mampu hidup secara toleran pada tatanan masyarakat yang berbeda status sosial ekonomi politik, perbedaan suku, golongan, agama, adat, hingga pandangan hidup.

“Si Karyo, yang orang Jawa, dulunya cuma ngontrak, namun karena rajin adkhirnya dia bisa membeli rumah kontrakkannya dari orang Betawi,” katanya.

Taufan menjelaskan kisah cuplikan “Si Karyo” yang ada dalam film legendaris si Doel Anak Betawi besutan Sutradara kawakan Rano Karno untuk menggugah kepada kalangan ormas akan tumbuh kembangkanya sikap menerima orang Betawi kepada para pendatang yang rajin, gesit, disiplin, hemat dan suka menabung. Interaksi budaya model karyo ini haruslah dimaknai secara positif dan nilai-nilai positif pada masing-masing budaya harus bisa dijadikan modal dasar kita untuk membangun keharmonisan dan kerukunan sesama ormas di ibukota.

Data di Kementerian Dalam Negeri sampai dengan 12 September 2018 pertumbuhan jumlah cukup besar saat ini yaitu 390.574 ormas dengan rincian Ormas yang sudah memiliki SKT (Surat Keterangan Terdaftar) 26.031 rincianya, SKT Kemendagri 907, SKT provinsi 8170, SKT kabupaten atau kota Rp16.954.

Selain itu, Ormas yang berbadan hukum terdaftar di Kemenkumham sebanyak 364.46. dengan rincian Yayasan 213.573, SKT Provinsi 8.170. Perkumpulan 150.887. Ormas beradan hukum Yayasan asing atau sebutan lain yang memiliki izin prinsip dan Kemenlu sebanyak 83.

Jebolan Paska Sarjana Jurusan Kebijakan Publik dari UGM ini menuturkan perkembangan jumlah Ormas yang signifikan dengan aktivitas dan dinamika keberadaannya yang semakin kompleks menuntut tata kelola yang lebih baik lagi.

Karena itu, kata Taufan, Kesbangpol DKI Jakarta terus mengembangkan dialog antar ormas dalam rangka mengajak peran sertanya dalam ikut membangun “Maju Kotanya dan Bahagia Warganya.

“Jakarta akan menjadi kota moderen dan maju bila ormas terus membantu pembangunan pemda DKI Jakarta di segala bidang kehidupan. Membantu pemerintah memerangi hoax, ujaran kebencian, kampanye penolakan money politics, dan bersama  pemerintah mengantisipasi dan mencegah terjadinya berbagai permasalahan gangguan keamanan dan ketertiban.” Pungkas Taufan. (Zul)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

85 komentar

News Feed