oleh

Dirjen Kemendikti Sebutkan 3 Tantangan ADRI Journal International

JAKARTA – DIREKTUR Jenderal Perguruan Tinggi bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Kemendikti, Dr. Muhammad Dimyati membuka Rapat Kerja Nasional Pertama Perkumpulan Ahli Dosen Republik Indonesia (ADRI) Journal International yang diadakan di Kampur Universitas Negeri Jakarta, Senin (27/8/2018).

Rakernas yang diikuti 160 peserta dari pengelola Journal International di seluruh Indonesia ini dihadiri Presiden ADRI, Dr. Ahmad Fathoni, Ketua Panitia, Prof. Faisal, dan Dr. Nurhayati mewakili Rektor UNJ yang berhalangan hadir.

Dalam sambutannya, Dimyati mengatakan bahwa produksi penulisan ilmiah para peneliti dan dosen di Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dia menyoroti ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan penulisan ilmiah berskala internasioan.

Pertama, pemerintah mendorong peningkatan kualitas penulisan ilmiah dari kalangan peneliti dan dosen. Regulasi dan kebijakan pemerintah memberikan iklim yang kondusif bagi pengembangan karya-karya ilmiah. Saat ini sudah keluar Permen 9 Tahun 2018 yang menyoal akreditasi jurnal. Diakuinya, saat ini memang yang menonjol masih dalam kuantitas dan belum kualitas. Penekanan ke kualitas ini penting karena ia lebih powerful.

Kedua,  dalam kaitannya dengan industri, hasil-hasil penelitian ilmiah masih belum matched  dengan tuntutan permintaan industri.  Ke depan, tentu perlu dipikirkan sinergitas hasil penelitian dunia pendidikan dengan kebutuhan industri.

Ketiga, dari segi kualitas lembaga penelitian,  kondisis kita masih belum merata. Di satu ada lembaga yang sudah berkembang maju dan disisi lain masih ada yang baru mulai. Karena itu, pemerintah mengambil kebijakan “cluster” dalam pembinaannya dan tdak main pukul rata.

Dibandingkan dengan Malaysia, kata Dimyati, Indonesia masih berada di bawah Malaysia dalam hal produktifitasnya. “Malaysia tiap tahun ada  28 ribu publikasi sementara kita cuma 1500,” bebernya.

Kepada para peserta Rakernas, Dirjen Dikti mendorong agar sebagai insan akademis mereka berani mengubah mindset dengan menunjukkan kekuatan dan sinergitas kita untuk membangun jurnal ilmiah yang bagus.

Sementara itu, dalam sambutannya, Presiden ADRI Journal International, Dr. Ahmad Fathoni mengutarakan perlunya pemerintah mensubsisi biaya yang diperlukan untuk penulisan karya-karya ilmiah dari anggota ADRI. Dia menilai, saat ini devisa yang terbuang ke luar negeri untuk menulis karya ilmiah per tahunnya mencapai Rp10 Triliun.

“Jika Indonesia ingin maju, maka pemerintah harus menyediakan dana Rp10 Triliun untuk para peneliti,” ujar Fathoni disambut applause peserta.

Selain masalah dana, Presiden ADRI Journal International meminta perhatian pemerintah agar membatu keamanan situs ADRI Journal International. Pasalnya, sebelum ADRI memiliki server sendiri, sudah 2 kali para hacker merusak situsnya.

ADRI Journal International saat ini memiliki 26 situs di seluruh Indonesia. Keberadaan situs ini jelas sangat membantu para peneliti dan dosen untuk mempublikasikan karya-karya mereka.

Dalam laporan kegiatannya, Prof. Faisal mengatakan bahwa kegiatan ini dipicu dan  dipacu oleh adanya Permen No. 20 Tahun 2018 yang berisi tentang kewajiban para dosen untuk membuat karya ilmiahnya.

“Journal Internasional ADRI merupakan sarana untuk publikasi karya-karya dosen dan peneliti,” paparnya.

Rakernas ADRI yang diagendakan selama 2 hari Senin-Selasa, 27-28 Agustus ini membahas 2 agenda yaitu agenda Rakernas yang melibatkan unsur-unsur dari pengelola jurnal yaitu Reviewer,  Chief Editor (Pemimpin Redaksi), dan Managemen dan kedua acara ramah tamah delegasi ADRI dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Basewedan di Balai Agung, Balai Kota, Jakarta. (Zul dan Endi).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed