oleh

Jelang Pemilihan, Calon Bupati Jalur Independen Garut Naik Elektabilitasnya

-Politik-43 views

GARUT – MUNCULNYA sejumlah calon bupati atau calon walikota dari jalan perorangan (independen) dalam laga pesta demokrasi Pilkada Serentak 2018 ini merupakan fenomena yang menarik untuk diamati.

Kemunculan calon perorangan ini tentu bukan merupakan gejala deparpolisasi dalam perpolitikan di tanah air. Gejala itu lebih  mencerminkan kegagalan sistem kaderisasi partai politik untuk memunculkan kader-kadernya untuk berlaga.

Fenemena jalur independen ini juga muncul di Kabupaten Garut yang dalam pemilihan bupati saat ini. Keempat cabup yaitu pasangan Iman – Dedi, pasangan Agus Hamdani – Pradana Aditya, pasangan Rudy – Helmi, dan pasangan independen Suryana – Wiwin. Masuknya jalur cabup independen ini dengan sendirinya mencerminkan masih adanya dukungan dari masyarakat untuk calon non-partai.

Terkait rating masing-masing cabup, sebuah survey yang dirilis oleh Lembaga Survey Independen Pelangi Kebangsaan pada pertengahan Maret – awal April 2018 lalu mencatat bahwa perolehan sementara pasangan Iman – Dedi (30,4%), pasangan Agus Hamdani – Pradana Aditya (25,2%), pasangan Rudy – Helmi (22,8%), dan pasangan independen Suryana – Wiwin (11,2%), dan 10,4% belum memutuskan.

Dua bulan kemudian, Kembali Survey Independen Pelangi Kebangsaan merilis survey terbarunya untuk para kandidat Calon Bupati Kabupaten Garut – Jawa Barat di putaran terakhir jelang dilaksanakannya pencoblosan Pilkada serentak 27 Juni 2018. Survey dilakukan pada 7-21 Juni 2018 gunakan metode multistage random sampling dari 635 responden yang tersebar di 424 desa dari 21 kelurahan – 42 kecamatan se-kabupaten Garut dengan margin eror plus minus 3,5%. (Total desa dibagi 2 + 1, di setiap desa diambil 3 responden + 1).

Hasil survey terakhir, 6 hari jelang pencoblosan memperlihatkan no urut 1 paslon petahana Rudy Gunawan – Helmi Budiman mengantongi elektabilitas 29,3%.

Jumlah ini mengungguli pasangan lainnya. Seperti paslon jalur independen Suryana – Wiwin 27,1%, Iman Alirahman – Dedi Hasan Bahtiar 23,4%, Agus Hamdani – Pradana Aditya Wicaksana 13,9% dan 6,3% belum memutuskan. Dari survey terakhir ini terlihat paslon dari jalur independen yang semula di urutan keempat naik menjadi urutan kedua.

“Sulit untuk memutuskan siapa yang akan menangkan pikada cabub Kabupaten Garut periode 2018 – 2023 karena selisih antara paslon nomor urut 1 yang diusung partai Gerindra, PKS, Nasdem, Perindo dan paslon nomor urut 3 jalur independen tipis, hanya terpaut 2,2%, kata Heru Divisi Informasi Lembaga Survey Independen Pelangi Kebangsaan, saat dihubungi melalui telepon, Kamis (21/6/2018).

Heru menjelaskan tanpa mendahului kehendak Tuhan, yang bisa dipastikan menjadi pemenang Pilkada Kabupaten Garut adalah pasangan nomor urut 1 dan 3, namun bisa saja terjadi kemungkinan lain karena mengingat masih adanya responden yang belum menentukan pilihan sebesar 6,3%. Belum memutuskan di survey akhir ini artinya responden sudah memiliki pilihan namun masih ragu, dan kemungkinan bisa berubah, istilahnya soft supporter. Biasanya jumlah soft supporter akan gunakan haknya dikisaran 50% atau sekitar 3,1% dari total yang belum memilih pada hasil survey akhir.

Pantauan dilapangan pada 2 bulan terakhir terjadi peningkatan eskalasi pergerakan dari masing – masing tim paslon secara massive, mengingat semakin dekatnya masa pencoblosan 27 Juni 2018. Pergerakan terlihat massive masih diseputar sosialisasi, program kerja, isu, claim dan dukungan tokoh – ormas pada salah satu paslon. Ini sangat mempengaruhi public atas paslon yang diyakininya. Terlihat dari perolehan hasil survey akhir masing – masing paslon, bahwa massa pendukung fanatic tidak terlalu dominan disbanding dengan massa mengambang.

Indikasi terjadinya dominasi pendukung fanatic adalah minimnya pergeseran posisi dan fluktuasi elektabilitas paslon. Paslon yang miliki pendukung mayoritas disetiap survey akan selalu memimpin perolehan. Kabupaten Garut alami fluktuasi elektabilitas masing – masing paslon di setiap survey Pelangi Kebangsaan.

Dari hasil setiap survey menunjukkan masyarakat Kabupaten Garut lebih dominan dari dampak informasi di medsos, tanggapan / arahan tokoh adat – masyarakat – politik – agama – seni dan budaya.

Lonjakan nomor urut 3 dari posisi 4 ke posisi 2 di survey akhir 7-12 Juni 2018 terlihat dari prolehan prosentase elektabilatasnya yang mendekati tipis paslon petahana. Lompatan itu berlangsung dalam kurun waktu 2 bulan terakhir. Tentu ini merupakan fenomena yang menarik untuk diamati.

Terpantau beberapa waktu lalu bergabung Forum Komunikasi Ulama dan Santri Garut (FOKUS) yang membawahi 60 pesantren di Garut, Laskar ASWAJA, Forum Ulama Mujahid 212 (FUM), Gerakan Umat Alumni 212 (GUA 212) yang diperkirakan mendukung paslon independen.

Kesemua ormas itu merujuk pada akad serta kreteria dari PA 212. Bila di daerah tidak terbentuk koalisi partai yang sesuai kreteria maka umat diberikan kebijakan sendiri sebagai bentuk kearifan lokal. Sehingga umat dan ormas Islam yang ada dapat memperjuangkan aspirasinya lewat calon kepala daerah yang diyakini mampu membawa dan merealisasikan amanah umat.

Kenaikan elektabilitas calon Independen ke posisi ke-2 ini  sepertinya tak terlepas dari anjuran Alumni  212 dan komunitas umat Islam lainnya. Kita lihat saja paska 27 Juni hari pencoblosan nanti apakah pengaruh suara umat ini akan membawa dinamika baru dalam tatanan perpolitkan di Garut. (Zul)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed