oleh

Ketika Aktivis Bicara Kopi

Aktivis dari berbagai lembaga yang biasa suka bicara politik bertemu di Kedai Kopi Perjuangan, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/4/2018). Tiga orang aktvis tampil sebagai pembicara yakni Ery Muh. Roffi (Jawa barat), Munawar Khalil (Aceh) dan Muh. Syaiful Wathan (Lombok).

Tema yang dibahasa adalah “Historia Kopi Nusantara”, bukan soal politik atau Capres 2019 yang di luaran sedang ramai diperbincangkan.

Muh. Syaidul Wathan, aktifis yang kini menjadi pegiat kopi Pahlawan dari kawasan Gunung Rinjani Lombok,  mengulas tentang sejarah kopi di nusantara.

Menurutnya, pada tahun 1914, Indonesia pernah menjadi salah satu negara sebagai pemasok kopi terbesar di dunia.

“Pada 1914, Indonesia sebagai negara pemasok kopi nomor empat di dunia, setelah Brazil,” ujar dia.

Namun demikian, kopi baru masuk ke Nusa Tenggara Barat khususnya Lombok, pada tahun 1941. Kolonial Belanda yang membawa kopi ke Lombok. “Di sana ada kopi arabica yang ditanam petani pada masa Belanda,” tuturnya.

Kopi Pahlawan yang merupakan kopi khas Lombok yang sekarang diperjuangkan sebagai produk unggulan sekaligus membawa pesan bahwa petani adalah pahlawan untuk kita semua.

“Kopi yang kita minum hari ini melalui proses panjang yang dilakukan petani. Maka sudah saatnya menempatkan petani sebagai pahlawan kita”, tambahnya.

Ia menyatakan saat ini kopi sudah menjadi kebudayaan, sudah menjadi mode dan bagian dari kehidupan masyarakat modern.

“Orang Arab menggunakan kopi sebagai kebugaran. Orang sufi menjadi kuat karena kopi. Dan Keluarnya ide-ide untuk memerdekakan Indonesia dimulai dari warung kopi,” kata dia.

Mantan Ketua PB PII asli Aceh, Munawar Khalil membahas seputar produk dan pertanian kopi di daerahnya. Kopi Aceh yang kini tersebar di sejumlah daerah dan seluruh dunia memiliki keunikan tersendiri.

Kopi Aceh menurutnya terbukti bersaing di tingkat internasional. Bahkan menurut Munawar tanpa kopi Aceh, starbucks bisa bangkrut. Namun kesejahteraan petani kopi masih memprihatinkan karena dikuasai mafia.

“Kopi Aceh ini unik dan juga dibicarakan banyak kalangan karena kopinya enak. Yang bawa kopi ke Aceh juga Belanda. Di sana menjadi tempat berkembangnya kopi Arabica pada 1924. Dan Kopi gayo yang ada di sana itu sebenarnya kopi Arabica,” katanya.

Munawar juga menyinggung manfaat kopi untuk kesehatan dan sebagai obat stamina. Tapi yang penting bagi aktifis, kopi adalah sumber inspirasi.

“Kopi adalah sahabat aktivis. Hampir semua aktivis menggunakan kopi sebagai teman untuk memikirkan masalah umat dan bangsa”, kata dia.

Sementara itu Aktifis GPII dari Jawa Barat Erry M Rofi membanggakan produk kopi asli Jawa Barat. Pada abad ke 17, Cianjur merupakan daerah yang memproduksi kopi terbesar pada masa itu.

“Di sana ada kopi rasa jeruk. Namun sayang kopi di Jabar pernah punah karena ada perlakuan tanam paksa yang diberlakukan kolonial belanda kepada petani kopi,” ujar dia.

Punahnya kopi di Jabar, menurut Ery, juga karena faktor penyakit hama yang melilit tanaman kopi yang tidak dapat dicarikan solusinya oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Senada dengan dua pembicara sebelumnya, Erry menganggap pemerintah harus memberi perhatian pada produk kopi karena kopi asli Indonesia memiliki ciri khas yang kuat bahkan terbukti bersaing di dunia.

Mantan Ketua Umum GPII Karman BM memberi catatan penting bahwa kopi pernah menjadi produk unggulan. Ia berharap semua stakeholder bisa menempatkan kembali kopi Indonesia menjadi produk unggulan di Indonesia (t)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed