oleh

Manusia Dihargai Karena Pemikiran dan Konsistensi Ucapannya

-Opini-122 views

JAKARTA – Hal yang sangat mendasar yang nenentukan hakekat kita sebagai manusia ada dalam tiga dimensi, tulisan ini setidaknya sekedar mengajak kita bisa melihat derajat kita sebagai manusia atau orang di lingkungan peradaban saat ini dan masa depan khususnya sebagai Orang.

Manusia secara umum karakternya terbentuk oleh sebuah filosofis dasar manusia yang dapat dipahami dari property manusia itu sendiri yaitu pertama NURANI yang sumbernya dari Sebuah keyakinan secara rohaniah ( sesuai ajaran agama ). Kedua, NALURI yang datang dari instink karena manusia itu hidup dengan lingkungan yang mempengaruhinya. Ketiga, NALAR yaitu sebagai konsekuensi pengembangan pengalaman hidup ke arah yg lebih baik.

Jika ke 3 N tersebut berjalan seimbang maka setidaknya tercipta karakteristik sebutan manusia. Konkretnya, ada orang yang sangat cerdas dan memiliki jejeran gelar akademis, namun ilmu yang dimilikinya tidak berpengaruh terhadap kemajuan lingkungannya apalagi pemikiran dan ucapannya tidak bernas dan membuat gaduh dalam lingkungannya, maka manusia tersebut belum bermanfaat dalam kehidupan sosial dan jangan pernah bermimpi jadi pemimpin.

Selanjutnya meskipun seorang itu punya nalar yang tinggi dengan gelar akademik yang berjejer di depan namanya akan cenderung menjadi sombong dan lupa diri, jika dalam berdayakan nalarnya tidak didasarkan atas rasa syukur kepada Tuhan Sang Pencipta, sehingga lebih mengandalkan ego pikirannya bahwa kemampuannya karena dia belajar giat saja, orang seperti ini selalu panik melihat orang lain berprestasi dan selalu negatif thingking konsep berpikirnya. Tipe orang seperti ini lebih banyak ngomong (red: istilahnya N.A.T.O) dan dapat disimpulkan tipe orang sombong dan tidak peduli dengan orang lain atau konkretnya hidupnya tidak berfaedah bagi lingkungannya.

Pada dimensi Naluri bahwa setiap manusia memiliki laluri sama seperti hewan karena ada panggilan syaraf untuk pemenuhan kebutuhan lahiriah. Ketimpangannya jika ada orang yang punya naluri tidak didasarkan atas nilai nurani dan nalar, maka orang tipe seperti ini sangat berbahaya karena lebih menonjol sifat kehewanannya dan lebih mementingkan diri sendiri dan bukan tipe manusia sosial, orang yang mengedepankan konsep naluri dalam hidupnya sama seperti hidup hanya untuk makan dan kawatir disaingi dalam persaingan hidupnya. Tipe orang seperti ini cenderung mengabaikan kesopanan dalam bertutur atau memandang orang lain selalu tidak benar di pikirannya sebab asosiasi berpikirnya lebih menonjol konsep hidup berburu dan haus kekuasaan (red: raga hewani).

Dari pokok pikiran konsep 3 N (NURANI, NALAR dan NALURI) tersebut, yang sangat terpenting adalah implementasinya dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yaitu tetap menjaga KESEIMBANGAN 3 N tersebut agar kita terbangun menjadi manusia Indonesia yang utuh sehat jasmani dan rohani.

Jika salah menerapkan maka cenderung terjadi DEVIASI MORAL (perilalu yang menyimpang dari karakter manusia). Yang ingin saya katakan, bahwa Kata Moral adalah karena kita manusia. Lantas apa kaitannya 3 N dengan perilaku politik ?

Jawabnya sederhana, karena politik itu terkait juga dengan tujuan bernegara, yang di dalamnya ada manusia. Artinya jika kita seorang WNI maka syukurilah (nurani) atas nikmat kehidupan di alam kemerdekaan yang diberikan Tuhan YMK kepada kita.

Dengan rasa syukur , terlebih lagi jika kita punya nalar yang baik (apalagi bergelar akademis yang baik) maka harusnya konsep berpikir kita juga haruslah yang membawa kesejukan dalam lingkungan masyarakat kita, hal ini dibuktikan dengan tuturkata yang santun serta setiap ucapan didasarkan atas fakta bukan fitnah, atau rasa kebencian sehingga menjadi berita HOAKS atau UJARAN KEBENCIAN.

Akhir kata, bahwa jika ada manusia yang hanya mengandalkan naluri saja dalam berbuat untuk lingkungannya dan tidak mempergunakan nalarnya sesuai konsep nuraninya, manusia tersebut harus belajar menjadi orang, dalam hal ini Belajar Nilai Menjadi Orang Indonesia. Kesimpulannya bahwa manusia dihargai karena buah pemikirannya dapat berguna untuk sesamanya dan konsisten ucapan dan perilakunya sehingga menjadi teladan. Konsep manusia seperti ini dibutuhkan dalam pembangunan peradaban zaman now. (Endi)

Bangun Sitohang

Ketua Kajian Nilai Menjadi Orang Indonesia (KANIMOI) ).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

37 komentar

News Feed