oleh

Bisa Jadi Banyak Obat Berbahaya Beredar Luas

-Nasional-72 views

JAKARTA Dalam dua pekan terakhir, publik dihebohkan dengan penemuan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengenai obat yang beredar di masyarakat. Kasus-kasus yang ditemukan bisa saja seperti fenomena gunung. Terlihat satu dua yang muncul di permukaan, tapi didasarkan sangat banyak.

Penemuan pertama yang menghebohkan adalah adanya kandungan enzim babi dalam suplemen Viostin DS dan Enzyplex, awal Februari lalu. Kemudian, adanya kandungan policresulen dalam Albothyl, obat sariwan berbentuk cairan. Ternyata, kandungan ini justru dapat membuat luka sariawan semakin besar.

“Beberapa waktu lalu, ada obat yang katanya mengandung bahan baku babi. Sekarang ada obat dan kosmetik yang diduga berbahaya bagi kesehatan. Bisa jadi, masih banyak lagi obat, makanan, kosmetik, dan produk lain di luar sana yang tidak layak beredar,” ucap Wakil Ketua Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay.

Karena itu, eks Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ini meminta BPOM untuk meningkatkan kerjanya mengawasi dan meneliti kembali semua produk obat dan makanan yang beredar di masyarakat. Sebab, bisa jadi obat yang selama ini tenar di masyarakat sebenarnya juga tidak layak dikonsumsi bahkan bahaya bagi.

Saleh yakin, BPOM mampu melakukan itu. Sebab, BPOM saat ini sudah lebih kuat dibanding sebelumnya. Saat ini, BPOM punya deputi bidang penindakan, yang bisa dipakai sebagai alat pukul bagi produsen obat dan makanan yang menyalahi aturan.

“Saya mengapresiasi langkah BPOM dalam melakukan perlindungan terhadap masyarakat. Saya berharap, dengan pengawasan seperti itu, produk-produk yang beredar di masyarakat adalah produk-produk yang aman dan sehat untuk dikonsumsi,” ujar aktivis yang kini berlabuh di PAN ini.

Menurut dia, langkah BPOM melakukan uji klinis dengan metode farmakovigilans bagi obat-obat yang beredar sangat baik. Sebab, metode itu dilakukan secara pro-aktif.

Dalam konteks pembekuan izin edar Albothyl, ia mendorong BPOM bekerja secara transparans. Dia menyarankan BPOM melakukan uji klinis yang terbuka dan dapat dilihat semua orang, terutama mereka yang bergerak di bidang farmasi. Dengan begitu, tingkat keberbahayaan bahan yang ada dalam Albothyl dapat diketahui secara baik oleh masyarakat.

“Ini diperlukan sebagai bentuk perlindungan dan jaminan bagi produsen obat di Indonesia. Kalau mereka salah, memang harus diberi sanksi dan hukuman. Namun, jika mereka tidak salah, mereka juga berhak mendapat perlindungan. Jadi, kita fair dalam melihat kasus seperti ini,” tutupnya.(Safina/Rmol)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed