oleh

Dua Warga Nibung Nyaris Terbunuh di Lokasi TI

KOBA – Kejadian tak mengenakkan dilokasi tambang timah ilegal kembali terjadi di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah (Bateng). Kali ini, dua orang warga RT 16 Desa Nibung menjadi korban pengeroyokkan yang dilakukan oleh oknum masyarakat di wilayah tambang di belakang Pasar Moderen Koba, daerah Airbarito.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun harian ini, kejadian itu menimpa antara bapak dan anak, Irfan (19), pada Senin malam, yang merupakan salah satu korban kejadian tersebut terjadi pada Senin pagi, sekitar jam 09.00 WIB.Ia mengakui bahwa di lokasi itu memilki mesin robin yang biasa dioperasikan sehari-hari.

“Nginap disitu sehari-hari, robin di situ, dibawah sakan, pembuangan tailing, pulang katena perut lapar sekitar jam 7 pagi. Pulang makan, habis itu jual timah, baru beli bensin karena mau ngulang lagi ke lokasi.Lihat, ada yang negur, sendiri, langsung orang tu nanya, kau tidak punya otak ya, saya tanya kan kenapa, apa salah saya?.

Lalu kata mereka sakan mesin ti punya mereka miring, kalau itu jadi salah, saya minta maaf, kataku, aku bisa bantu perbaikan nya lagi. Nimbun lagi, kan kalau ada niat baiknya rencana mau ditimbun lagi,” ujar Irfan, Senin (12/2) malam.

Lantas setelah itu, kata Irfan, saat hendak melihat mesin robin miliknya karena mau diperbaiki ada kerusakan sedikit pada kipas, ada bagian yang aneh pada mesin itu.

Pasalnya, pada bagian mesin itu ada bagian yang penyok semacam bekas pukulan dan selang mesin sudah dicincang serta terpotong-potong.

“Selang sudah digulung, dipotong, mesin masih hidup cuman bagian mesin ada yang penyok. Saya nanya lagi sama orang itu, siapa yang motong robin dan selang, mereka jawab tidak tahu, aku kan sendiri takut, jadi pulang lagi kerumah, ngajak bapak (Nurrohim, red),” katanya.

Sementara, Nurrohim (44) menerangkan, saat dirinya datang bersama sang anak, Irfan, kemudian menanyakan kepada orang yang ada dilokasi tambang ilegal (TI) yang berada berdampingan dengan mesin robin miliknya sekitar 2 meter.

“Saya nanya kan sama orang disitu, siapa yang nyincang robin, tanya bener, rupanya ada satu orang langsung nonjok kepala kanan sambil jalan dari samping.

Awal yang nonjok sendiri, saat mau beridiri, mereka orang lima langsung ngeroyok di lokasi pondok mereka.

Kayaknya niat mereka memang mau bunuh, sudah nonjok kepala, mereka mau hantam lagi pakai linggis, kena bahu saya, lalu kepala, tapi aku tangkis, jadi jepit tangan, karena ada yang pakai kayu dari belakang secara berbarangan, kuku jempol lepas, dan jari bagian tengah kena juga, pecah dagingnya,” ungkapnya.

Nurrohim menerangkan, lantas seketika pada insiden itu dirinya mengalami daya ingat yang menjadi setengah sadar dan tidak dan kurang jelas jadi para pelaku yang melakukan pengeroyokan itu.

Tidak hanya itu, salah satu pelaku mengambil senjata jenis parang yang ia nilai untuk menghabisi nyawanya, namun karena sebelumnya ingin pergi bekerja sebagai buruh bangunan dengan cepat mengambil pukul besi yang ada di sepeda motor untuk mencoba melakukan perlawanan juga.

“Ada dua parang yang mau hantam saya, satu lari pas aku ambil pukul, mereka lari, saya langsung ambil motor pulang.

Tangan sudah tidak terasa lagi sakitnya, sudah pulang kerumah, darah terus ngalir, kuku lepas itu, ketempat saya kerja, mau ngabarin tidak bisa kerja, pas lagi disana ada yang bawa ke Rumah sakit, pakai mobil orang itu, tapi saya tidak tahu dia siapa.Ketemu dijalan, berobat dia yang nanggung, pulang kerumah sudah sempoyongan, sekitar dzuhur baru dibawa ke rumah sakit.

Tapi saat ditanya tim medis, orang yang bawa saya tadi selalu mendahului saat saya mau bicara, dihalangi,” katanya.

Selanjutnya, kata Nurrohim, usai berobat ke RSUD Bateng, dirinya dibawa orang tersebut ke Polsek Koba, kemudian ditempatkan di salah satu ruangan dan diintrogasi sendirian dari pukul 13.00-15.00 WIB.Kemudian, datanglah ketiga pelaku yang melakukan pengeroyokan terhadapnya dan turut di interogasi juga.

Namun, Nurrohim mencurigai dari tiga orang pelaku yang didatangkan hanya ada satu pelaku yang dikenali pada lokasi kejadian pagi itu dan itu sangat diyakininya.

“Irfan diluar, anak saya tidak diikutsertakan, pada saat diinterogasi bersama tiga pelaku lainnya.

Tapo saya tidak tahu mereka bertiga di interogasi, saya tidur, lemas, badan capek pagi tidak sarapan.Dibangunin, pas bangun datang sendiri pelaku itu, saya benarkan saat ditanya aparat, orang dua lain nyusul sejam kemudian.

Orang dua itu, saya sudah sadar bukan orang itu, ngaku pelaku, aku heran, tapi saya jawab iya karena masih bawakkan pening juga.

Pintu ditutup, disuruh diruangan saja, pelaku mau damai, ditanya sama polisi, ini mau dilanjut apa mau damai. Berhubung dua orang itu mau damai juga, pas diketik, saya belum tandatangani yang punya TI.

Rupanya perjanjian damai, tekejut juga kan.Itu juga, menjamin kita, tanggung jawab, pelaku janji tidak mengulangi, siap turun jabatan katanya,” ungkapnya.

Dikonfirmasi via telepon, Kapolsek Koba AKP Andri Eko Setiawan mengatakan, membenarkan adanya insiden pengeroyokkan terhadap masyarakat dilokasi tambang timah ilegal.

“Memang ada sedikit insiden, tapi sudah selesai secara mufakat damai antara kedua belah pihak.Sudah selesai perkaranya.Saya tidak megang datanya, data di unit reskrim.Kejadian ini sudah dilaporkan ke KA,” singkat Kapolsek.

Sementara itu, Ketua Ormas Pemuda Pancasila (PP) Bateng, Debi Haryanto mengatakan, insiden tersebut sangat disayangkan terjadi.Pasalnya, tidak adanya kejelasan masalah aktifitas TI disejumlah titik di Bateng telah memakan korban seperti yang terjadi itu.

“Dua kalu menyurati Kapolres itu, secara resmi tertulis, namun sampai sekarang belum ada tindaklanjut Kapolres, apalagi sekarang sudah memakan korban.Inilah yang ditakutkan, jangan sampai terjadi kayak gini.

Tindak tegas lah kalau masalah itu.Kita tunggu sampai hari Jum’at ini, kalau seluruh aktifitas TI dibelakang itu tidak dihentikan, kita akan datang ramai-ramai bawa pasukkan dan membubarkan sendiri TI itu,” ujarnya.

Ia menambahkan, jikalau perlu, permasalahan ini akan di giring kembali untuk bikin agar ada LP nya untuk di proses lebih lanjut.

Bila perlu hari ini langsung mendatangi Kapolda Babel agar juga turut mengetahui permasalahan ini hingga diselesaikan dengan baik.

“Ormas PP menolak keras aktifitas ini, sampai saat ini tidak ada tindakan tegas, sangat disayangkan kalau sudah ada korban.

Oknum polisi yang membekingi itu kita akan cari tahu, Jum’at ini akan kita datangkan 300 personel kalau aparat kepolisian tidak bisa menghentikan aktifitas itu.

Pemda Bateng juga harus bekerjasama menindaklanjuti permasalahan ini, membubarkan aktifitas itu,” terangnya.(Lutfi/M.radar).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed