oleh

Pemerintah diingatkan antisipasi harga minyak naik

-Ekbis-42 views

Jakarta – Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR, Rofi’ Munawar, mengingatkan pemerintah agar menyiapkan antisipasi atas kecenderungan kenaikan harga minyak dunia. Saat ini harga minyak itu fluktuatif di kisaran 60 dolar Amerika Serikat per barel dalam tiga bulan terakhir.

Harga International Crude Price atau minyak mentah dunia berpotensi mendorong pembengkakan subsidi energi nasional. Hal ini bisa terjadi seperti 2018, di mana besaran subsidi BBM dan LPG 3 kg pada 2017 menjadi Rp47 triliun dari target APBNP Rp44,5 triliun.

“Kenaikan harga minyak dunia dipengaruhi banyak faktor, utamanya dari sisi eksternal seperti situasi geopolitik dan komitmen pembatasan produksi minyak global dari negara produsen. Menyikapi kondisi itu perlu strategi yang cermat dan jitu dari pemerintah dalam mengelola subsidi energi,” kata Munawar, melalui keterangan tertulis dia, di Jakarta, Kamis.

Dia meminta pemerintah segera merumuskan formula dan strategi yang tepat dari setiap kenaikan angka ICP yang berkembang.

Terlebih kenaikan ICP secara faktual tidak sesuai alokasi anggaran energi yang telah dipatok pada APBN 2018 sebesar 46.000 barel sehari. Selain itu dia juga meminta pemerintah secara efektif meningkatkan produksi migas nasional.

Yang ironis, cukup banyak lapangan minyak yang pengelolaannya pada 2018 dalam fase terminasi dan transisi.

“Kenaikan harga minyak dunia harus mampu dimanfaatkan Indonesia sebagai peluang untuk mengungkit penerimaan negara. Meski tentu saja secara hati-hati menjaga konsumsi BBM yang tetap proporsional,” katanya.

Anggota DPR asal Jawa Timur ini menambahkan, harga minyak yang lebih tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, terutama jika belanja konsumen terdampak langsung.

Padahal daya beli dan konsumsi selama ini menjadi tulang punggung menggerakan ekonomi nasional. Namun, perlu upaya yang serius dalam jangka panjang agar harga minyak yang lebih tinggi dapat mendorong konsumen untuk melakukan diversifikasi konsumsi.

“Indonesia saat ini menghadapi penurunan cadangan energi fosil khususnya minyak bumi, ini terus terjadi dan belum diimbangi dengan penemuan cadangan baru. Disisi lain, konsumsi energi terus meningkat.” kata Rofi.

Rofi menjelaskan bahwa dengan kondisi itu Indonesia rentan terhadap gangguan yang terjadi di pasar global khususnya produk minyak bumi yang dipenuhi dari impor. Energi Baru Terbarukan merupakan solusi yang harusnya bisa didorong oleh pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan akan energi.(Safina/ANT)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed