oleh

Hilangnya Keteladanan Individu, Karena tidak Ada Budaya Malu

JAKARTA – AKHIR – akhir ini kita disuguhkan berita yang menghebohkan terkait perilaku pemimpin yang berada di lembaga negara. Untuk mengupas anomali tersebut, tim redaksi mencoba mencari tahu pokok masalahnya dari Ketua Lembaga Kajian Nilai Menjadi Orang Indonesia (MOI), Bangun Sitohang.

Sebelumnya beliau juga sudah pernah mengingatkan pentingnya kita gelorakan budaya malu. Sepertinya kejadian akhir-akhir ini sama maknanya, hanya polanya yang berbeda.  Dalam bincang awal lewat telepon, tim redaksi meminta pandangan Bung  Tohang terkait peristiwa Tiang Listrik yang menurutnya disebabkan hilangnya keteladanan individu karena tidak ada lagi budaya malu.

Dijelaskannya bahwa teladan itu bukan hanya dalam kata-kata saja tetapi dilaksanakan sesuai peran atau posisi yang kita miliki. Contohnya jika jika berprofesi sebagai guru maka kita memberi teladan menjadi guru yang baik dalam mengajar. Kemudian kalau kita jadi anggota partai politik kita harus bisa memahami etika politik yang berlaku dan jika kita menjadi pemimpin di lembaga negara kita harus bisa menjaga bagaimana menjadi teladan di lembaga yang kita pimpin.

“Core bisnis keteladanan adalah moral,” ujar Bung Tohang.

Menurut bung Tohang, pemimpin dikaitkan dengan moral karena pemimpin itu manusia (orang), sehingga harus punya nalar, naluri dan nurani. Jika 3 N tersebut tidak ada maka tidak terlihat moralnya. Pemimpin itu harus bisa menjaga wibawa lembaga yang dipimpinnya. Pemimpin itu harus konsisten ucapan dan perilakunya agar diteladani (diikuti) oleh komunitasnya.

Kemudian oleh Bung Tohang, saat ini fenomena yang terjadi adalah hilangnya budaya malu dalam kepemimpinan. Artinya tidak ada kesadaran untuk mengakui kesalahannya. Sehingga tidak heran adakalanya ada oknum yang terbiasa dengan perbuatan yang salah namun saat ditawarkan dengan perbuatan yang benar, justru yang benar tersebut dianggap salah. Inilah anomali perilaku kepemimpinan saat ini.

Tanggapan Sitohang, hal ini seharusnya tidak perlu terjadi kalau saja ada budaya malu dalam setiap orang. Ketika ditanyakan, apa langkah yang perlu dilalukan agar gejala tersebut diperbaiki, dengan ringan bung Tohang mengatakan,  pertama dimulai dari diri individu atau diri kita dulu. Kedua, kita biasakan konsisten ucapan dan perbuatan, sehingga jejak perilaku kita bisa diikuti (teladan) bagi orang lain. Hal yang ketiga,  dalam hidup berbangsa dan bernegara sebagai warga negara yang baik , kita harus patuh dengan hukum positip yang berlaku, sebagai contoh nyata bila kita tersangkut  proses hukum, jika ada panggilan  perangkat hukum kita harus datang  memenuhinya, sebab setiap warganegara sama di depan hukum. Jika hal tersebut kita lakukan, maka sebagai pemimpin kita punya keteladanan (ada sikap yang bisa dicontoh).

Ditambahkan bung Tohang,  yang menjadi masalah adalah ketika ada pemimpin yang selalu menyalahkan bawahannya dan tidak kesatria mengakui kesalahannya bahkan membuat kompensasi perilaku (dalih moral) yang dalam lagu dunia panggung sandiwara (penyanyi  tempo dulu Rocker Ahmad Albar ada: (peran berpura-pura). gejala ini selalu jadi dalih mengalihkan perbuatan agar lepas dari jerat hukum.

Dalam akhir perbincangannya, tim menanyakan, apa resep yang perlu dicermati untuk mengatasi hal tersebut, bung Tohang berpesan,  belajarlah untuk menjadi Orang yang baik dan menjadi orang Indonesia. Orang baik itu selalu sadar kalau salah dan orang Indonesia itu selalu konsisten dengan norma hukum positip sesuai Pancasila dan UUD 45. Ingatlah bahwa manusia itu dihargai karena  buah pikirannya bukan karena harta dan status sosialnya. Sebab yang kekal itu hasil pemikiran.  Mari kita gelorakan budaya malu. (Maher).

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 komentar

News Feed