by

Program Gora Pak Harto di NTB Mampu Sejahterakan Rakyat

-Nasional-56 views

Mataram – Hari ini, Sabtu, 8 Juni 2019, merupakan hari kelahiran Presiden ke-2 RI, HM Soeharto. Pak Harto lahir pada 8 Juni 1921 silam di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu,  Bantul, Yogyakarta, dari buah perkawinan pasangan Ibu Sukirah dan Kertosudiro.

Sosok Pak Harto yang berjiwa bijaksana dan sukses mengembangkan program ketahanan pangan upaya menjaga stabilitas nasional guna meningkatkan kesejahteraan rakyat, hingga saat ini masih terasa.

Karena memang program ketahanan pangan Pak Harto itu ditujukan semata-mata untuk kemakmuran petani, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Perhatian Pak Harto terhadap program ketahanan pangan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat selalu disiarkan melalui televisi yakni TVRI. Sehingga tak heran ketika usai Magrib masyarakat perdesaan menunggu acara tersebut tayang untuk melihat bagaimana cara bercocok tanam yang benar.

Seperti tayangan program Desa ke Desa, Petani Menjawab, Menteri Pertanian Menjawab, Kotak Pos, dan Kelompencapir. Jadi, apa yang dicanangkan program nasional khususnya di luar Jawa, lebih-lebih masyarakat NTB selalu mengikutinya.

Cara bercocok tanam yang baik itu benar-benar diarahkan. Misalnya, ketika masyarakat luar Jawa menanam padi atau kedelai, salah secara teknis, maka dibahas oleh petugas penyuluh pertanian yang mendampingi mereka. Memberikan arahan cara mengolah tanah seperti apa agar hasil panennya maksimal.

‘’Program yang ditayangkan melalui TVRI itu benar-benar nyata. Hasilnya terbukti maksimal. Dalam setahun saja bisa panen padi tiga kali di zaman kepemimpinan Pak Harto itu,’’ kata salah seorang tokoh masyarakat, Muhammad Tarum, saat ditemui Mataraminside.com, di kediamannya, Sabtu (8/6).

Lumbung Padi sebagai tempat masyarakat Lombok menyimpan padinya setelah panen.

Muhammad Tarum mengaku mengikuti betul program-program yang dicanangkan Presiden ke-2 RI, HM Soeharto tersebut.  Terlebih lagi dengan ditemukannya varietas padi baru jenis Gogo Rancah atau Padi Gora di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kondisi lahan di Pulau Lombok dan Sumbawa, Provinsi NTB, sama dengan daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Tanah di NTB, meskipun dilinggis berkali-kali masih tetap berupa tumpukan batu.

Itulah sebabnya Pak Harto mencanangkan program penanaman Padi Gogo Rancah (Gora) di NTB. Menanam padi dengan sistem Gogo Rancah (Gora) adalah cara bercocok tanam padi di lahan tadah hujan yang mengandalkan air hujan.

Berbeda dengan padi sawah yang memerlukan air sejak mulai tanam. Namun, padi Gogo Rancah pada masa tanam tidak memerlukan air yang cukup banyak. Tapi memasuki fase pemupukan, padi Gogo Rancah baru membutuhkan air seperti padi sawah.

Tanaman padi sistem Gogo Rancah umumnya dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan dan lahan sawah berpengairan yang sering terlambat mendapatkan air. Akhirnya, dibuatlah embung atau waduk-waduk kecil untuk menadah/menampung air hujan yang akan digunakan untuk pengairan.

Muhammad Tarum mengatakan, Gogo Rancah diperkenalkan ke NTB pada 1978 silam, pada saat Gatot Soeherman menjadi Gubernur NTB. Pemerintah NTB memberikan bantuan benih padi merah atau bahasa Sasaknya ‘Pare Bulu’ kepada masyarakat agar penanaman pada lahan petani merata dan menyeluruh untuk mencapai swasembada pangan lokal.

Sistem tanam Gogo Rancah ini didukung oleh Presiden Soeharto dengan adanya program Bimas (Bimbingan Massal) dan intensifikasi tanaman. Akhirnya, pada tahun 1984 silam, NTB berhasil menyumbang produksi beras terbanyak dalam mendukung program swasembada pangan yang digaungkan oleh Pak Harto.

Sehingga Indonesia mencapai swasembada pangan pada 1984, dan sampai 1996, total produksi selalu melebihi total konsumsi domestik. Bahkan, pada masa pemerintahan Pak Harto, Indonesia mampu memberikan sumbangan 100.000 ton beras kepada negara Vietnam dan Afrika, yang saat itu mengalami kesulitan stok beras.

‘’Tahun 1986, Pak Harto mendapatkan penghargaan dari Food and Agricultural Organization (FAO) atas suksesnya swasembada pangan,’’ ujarnya.

Muhammad Tarum menjelaskan, ketahanan pangan adalah lambang bahwa negara yang kuat itu bukan karena persenjataan dan perekonomian. Tapi yang utama adalah ketahanan pangan negara itu dalam menjaga stabilitas nasional.

‘’Namun, saat ini berbeda, kita lebih banyak impor dan tentunya yang merasakan keuntungan itu hanya pedagang, sedangkan rakyat dan petani tetap menderita,’’ katanya.

Harga gabah dan beras meroket. Apalagi sekarang Bulog,  menurut Tarum, semacam dikebiri, menjadi sulit mengontrol, semuanya impor. Padahal, di masa pemerintahan Pak Harto, sembilan bahan kebutuhan pokok itu berpusat pengendaliannya di Bulog.

‘’Zaman Pak Harto, kecukupan sandang pangan. Kita mencapai masyarakat yang adem ayem tentram gemah ripah loh jinawi terlepas dari kekurangan politik,’’ ujar Muhammad Tarum yang juga merupakan pensiunan guru SMP ini.

Ketahanan pangan itu, lanjut Muhammad Tarum, tidak bisa ditawar karena merupakan fundamental negara. Menurutnya, negara kuat itu bukan karena bangsa yang kuat dan hebat punya senjata seperti Amerika Serikat (AS). Karena kalau tidak punya ketahanan pangan tetap saja akan mengimpor barang ke negara lain.

‘’Pak Harto mencanangkan diversifikasi pangan. Jadi, pangan itu tidak hanya melulu beras. Pangan itu banyak variasi yang menunjang di antaranya susu dan daging ternak,’’ ucapnya.

Seingat Tarum, Pak Harto bersama Ibu Tien pernah datang ke NTB untuk melakukan kunjungan kerja (kunker) dalam rangka meresmikan dimulainya panen raya Padi Gogo Rancah di Desa Teruwai, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

‘’Saya lupa-lupa ingat hari dan tanggalnya, kalau tidak salah bulan Maret Tahun 1981 lalu Pak Harto datang ke NTB,’’ ucapnya.

Kehadiran Kepala Negara ke daerah Lombok Tengah bagian selatan yang sebelumnya dikenal kritis dan sering terancam kerawanan pangan, disambut dengan suka cita oleh penduduk daerah itu.

Bersama rakyat, Pak Harto akan ikut menuai padi di Desa Teruwai, kemudian dilanjutkan temu wicara. Usaha tani terpadu tepat guna dengan inti kegiatan intensifikasi padi Gora yang dilaksanakan melalui operasi ‘Tekad Makmur’ itu dari target 26.200 hektare, terealisasi 26.387,4 hektare atau 100,7 persen.

Petani yang tadinya kurang dinamis dan putus asa serta apatis karena tantangan alat, akhirnya tergugah untuk menyukseskan usaha tersebut.

Sebanyak 33.285 petani yang tergabung dalam 2.523 kelompok tani (Poktan) di 161 desa dari 28 wilayah kecamatan pada lima kabupaten di NTB, bertekad merubah wajah daerahnya melalui keberhasilan Gora.

Hasilnya di luar dugaan. Yakni paling sedikit 6 ton gabah kering panen/hectare. Bahkan di beberapa lokasi ada yang mencapai 16 ton, sedang sebelumnya hanya sekitar 1,5 ton/hektare.

Kalangan petani mengungkapkan keberhasilan Gora saat itu ditunjang oleh curah hujan yang cukup dan tepat pada waktunya serta gairah yang menggebu-gebu dari rakyat untuk merubah nasib melalui pola tanam itu.

Diharapkan dengan penanaman dua kali setahun (musim hujan dan musim kemarau) petani dapat menanami lahan pertanian tanah glomusol hitam itu dengan palawija untuk meningkatkan pendapatan taraf hidupnya.

Embung Aik Bual, di wilayah Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah, salah satu embung yang dibangun pada masa Pemerintahan Presiden HM Soeharto.

Dan Pak Harto waktu itu, kata Tarum, akan terus menggiatkan program intensifikasi khusus ke seluruh pelosok wilayah Indonesia untuk meningkatkan produksi pangan dalam rangka usaha mencapai swasembada di bidang pangan, serta meningkatkan penghasilan petani.

Pak Harto juga menganjurkan para petani untuk memelihara sapi, kerbau dan lain-lain, sebagai sumber pupuk kandang, demi untuk meningkatkan hasil panen.

Dalam program ketahanan pangan ini, lanjut Tarum, tidak bisa diperbandingkan antara pemerintah lama dan sekarang mengingat masing-masing punya tantangan. Namun menurut Tarum, tinggal bersinergi saja, mana yang terbaik dari pemerintah masa lalu, sekarang dan akan datang.

Dia pun mengingatkan, pemerintah sekarang ini ada karena tidak terlepas dari pemerintah masa lalu. Sementara kalau ingin diterapkan program dari pemerintah masa lalu, mungkin banyak kendala.

Tetapi, bukan berarti itu dikesampingkan, karena hal yang paling fundamental membangun negara adalah ketahanan pangan.

‘’Jadi pemikiran Pak Harto dalam membangun bangsa ini tidak boleh dilupakan. Karena kita bicara masa sekarang nggak akan lepas dari masa lalu. Bagaimana masa lalu itu berperan. Kita harus realistis, ada hal yang baik mari kita ambil dan kembangkan di masa sekarang,’’ ujarnya.

Bahkan sebagai simbol keberhasilan Pak Harto di NTB terhadap program tersebut yakni dengan dibangunnya Monumen Bumi Gora, di Taman Bumi Gora, Jalan Udayana Mataram.

Monumen Bumi Gora, sebagai simbol keberhasilan program Gora yang dicanangkan Presiden HM Soeharto di Provinsi NTB.

Monumen Bumi Gora itu diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 1988 lalu. Monumen Bumi Gora itu berbentuk sebuah batu besar dan dikelilingi dinding-dinding dengan relief yang menggambarkan perkembangan petani dan pertanian, khususnya padi dan nelayan.

Monumen tersebut menjadi simbol kebanggaan warga NTB, khususnya Lombok. Sekaligus menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat NTB dahulu berhasil mengembangkan padi dengan sistem tanam Gogo Rancah (Gora) di masa Pemerintahan Pak Harto.

‘’Pembangunan monumen ini dianggap sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan NTB dalam menanam padi Gogo Rancah (Gora) dan dapat membantu usaha pencapaian swasembada pangan nasional pada tahun 1984 lalu,’’ kata Penjaga Monumen Bumi Gora NTB, Imam Nawawi.(Sid)

News Feed