by

Nazwa Shibab Sebut Politik Gender tidak Ada dalam Sistem Demokrasi Kita

JAKARTAJURNALIS Nazwa Shihab mengatakan di zaman keterbukaan ini, siapapun berhak dan mungkin untuk menjadi orang nomor 1 di Indonesia (Presiden RI). Ia melihat, di sejumlah daerah dari menjadi Bupati sampai Gubernur banyak yang dari kalangan perempuan tanpa memandang status.

“Yang awal mulanya apakah itu birokrat pengusaha atau yang dulu dianggap ‘wah ga mungkin kalau jadi presiden nih’ atau engga punya koneksi atau keluarga yang tidak punya kepentingan atau ga punya uang cukup banyak kalau menurut saya demokrasi kita memungkinkan siapapun dan untuk menduduki posisi apapun,” terang Nazwa.

Nana sapaan akrabnya menilai, masalah perempuan untuk menduduki jabatan politik merupakan isu yang sangat lampau. Bagaimana tidak, karena kata dia, bangsa Indonesia sekarang sudah melihat tanpa memandang gender. Apalagi demokrasi negara ini sangat terbuka soal kedudukan jabatan politik.

“Jadi kalau ditanya apakah kemungkinan saya (perempuan) bisa jadi presiden, kenapa tidak?,” tandasnya.

Berbeda dengan staf khusus Presiden, Andita Irawati, soal jabatan presiden dirinya mengaku tidak terpikirkan sampai sejauh itu, karena baginya yang terpenting adalah tanggung jawab perempuan terhadap suaminya.

“Terus terang saya engga punya target yang muluk-muluk, target kerja kita apa, jadi ga pernah kepikiran,” tutur Andita.

Meski demikian, bukan tidak mungkin perempuan menjadi Presiden RI. Menurutnya, bila seseorang mengembangkan karir dengan sebaik-baiknya, maka semua itu akan mengalir dan pekerjaan itu akan datang dengan sendirinya.

“Pengembangan diri, peningkatan karir, perluasan pekerjaan itu akan datang sendiri karena kita fokus pada diri kita,” pungkasnya. (Zul/ Foto: Ist)

News Feed